Satrad 226 Buraen Miliki Kemampuan Early Warning dan Ground Control Interception

Berjarak sekitar 40 km ke arah timur dari Lanud El Tari, Kupang, Nusa Tenggara Timur, tidak mudah mencapai lokasi Satuan Radar (Satrad) 226 Buraen. Situs radar yang berada di ketinggian sekitar 500 meter dari permukaan laut ini, memang lokasi yang ideal.

Di koordinat yang sama pula pada masa Perang Pasifik, tentara Jepang mendirikan situs radar untuk mengamankan pulau Timor yang strategis.

Dengan kondisi jalan yang sempit, menanjak dan berlubang-lubang, butuh kesabaran untuk bisa mencapai Buraen.

Situs radar yang strategis ini dijaga oleh 10 personel Paskhas. Aplusan pasukan jaga dilakukan per tiga bulan sekali.

Keberadaan Satrad 226 di Buraen berawal dari memanasnya situasi pasca lepasnya Timtim dari Indonesia tahun 1999.

Ketegangan tidak hanya terjadi di darat, tapi juga di udara wilayah kedaulatan NKRI.

Ruang udara yang tidak terjaga oleh radar, seolah-olah menjadi ruang bebas tak bertuan. Penerbangan gelap pun berkali-kali terjadi, tanpa mampu dideteksi oleh Kohanudnas.

Melihat situasi yang tidak kondusif ini, oleh Mabes TNI kala itu, diperintahkan untuk menggeser penggelaran Satuan Radar dari semula di Lanud Iswahyudi, Madiun, Jawa Timur ke Buraen, Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Kondisi di perbatasan semakin rawan.

Menghadapi kondisi tersebut dan berdasarkan Instruksi Panglima TNI tentang gelar Radar di Lanud Eltari, maka pada 5 Juni 1999 dilaksanakan penggeseran radar Lanud Iswahyudi ke Lanud Eltari guna mendukung operasi maupun latihan yang dilaksanakan Kohanudnas maupun TNI.

Satuan Radar (Satrad) 226 Buraen (My Lesat)

Satuan radar yang digeser adalah Satrad 251 Madiun.

Sebelumnya Satrad ini berada di bawah jajaran Kosekhanudnas IV dengan nama Satrad 241 Buraen. Karena secara geografis Satrad ini lebih dekat dengan Kosekhanudnas II Makassar, maka Satrad 241 Buraen dialihkodalkan ke Kosekhanudnas II Makassar pada 28 Juni 2013. Kemudian berganti nama menjadi Satrad 226 Buraen.

Pengalihan dilakukan agar kemampuan deteksi dan ground control, kemampuan alat komunikasi radio pada semua jenis frekuensi Satrad akan lebih optimal dalam pelaksanaan operasi hanud.

Sejak di Madiun, Satrad 226 ini mengoperasionalkan radar Thomson TRS 2215 R buatan Thomson, Perancis. Radar yang mempunyai cakupan sekitar 220 Nm ini mulai digunakan TNI AU sejak tahun 1982.

Radar ini adalah tipe mobil, sehingga ruang kendalinya berada di sebuah kontainer beroda.

Radar ini memiliki kemampuan Early Warning (peringatan dini) dan Ground Control Interception (penuntun buru sergap).

Konsol-konsol di ruang kendali mobil itu setidaknya sudah dua kali di-upgrade. “Sebelumnya masih analog, sekarang sudah digital,” ujar Pelda Khairul yang pernah berdinas di Satrad Ranai dan Ngliyep.

“Penerbangan gelap biasanya dari unscheduled, jadi tidak selamanya pesawat militer. Jika penerbangan rutin tidak mungkin tanpa identitas seperti airline,” tambahnya, sebagaimana di kutip dari laman My Lesat (20 Juli 2017).

All photos : Satuan Radar (Satrad) 226 Buraen (My Lesat)

Editor : (D.E.S)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s