Dubes Kim: Korea – Indonesia Terus Lanjutkan Proyek Pesawat Tempur KF-X/ IF-X

Dubes Republik Korea Selatan untuk Indonesia Kim-Chang-beom menyatakan bahwa Korsel dan Indonesia terus melanjutkan pengembangan proyek pesawat tempur generasi 4.5 KF-X/ IF-X.

Kim dalam sesi wawancara khusus dengan Antara di Jakarta, Kamis mengungkapkan bahwa KF-X/ IF-X adalah proyek kerja sama jangka panjang antarpemerintah yang telah berlangsung dengan cukup lancar.

Pemerintah Korea memiliki hubungan yang dekat dengan Menhan Ryamizard Ryacudu dan terus berkonsultasi dalam pengembangan proyek pesawat tempur KF-X/ IF-X yang bisa mengakomodasi kemampuan siluman, atau tak terdeteksi oleh radar itu.

“Sejauh yang saya tahu, keseluruhan presentasi berjalan dengan baik dan saya belum mendengar adanya keputusan resmi terkait pengunduran diri dari proyek yang sedang berlangsung ini,” kata Kim.

Proyek KF-X/ IF-X adalah proyek kerja sama jangka panjang antara Korsel dengan Indonesia untuk membangun kemandirian industri pertahanan di tengah keberadaan negara-negara besar dalam laju pengembangan alat utama sistem persenjataan dunia.

Proyek pembangunan pesawat tempur yang mempunyai rentang spesifikasi teknis di antara generasi 4 dan 5 tersebut pertama kali ditawarkan oleh pemerintah Korsel ke Indonesia pada 2010.

Kerja sama tersebut dilaksanakan melalui tiga tahap yaitu Fase Pengembangan Teknologi, Fase Pengembangan Mesin dan Manufaktur, dan Fase Pengembangan Produksi.

Indonesia dan Korea Selatan pada Januari 2016 menandatangani perjanjian senilai 1,3 miliar dolar AS untuk pengembangan jet tempur baru.

Berdasarkan atas perjanjian itu, yang ditandatangani dengan Korea Aerospace Industries (KAI), Kementerian Pertahanan Indonesia akan menanam sekitar 1,6 triliun won (Rp13 triliun) dalam program Korea – Indonesia Fighter Experimental (KF-X/ IF-X).

“Kami harap proyek ini dapat dilaksanakan tanpa hambatan,” kata dubes Kim, sebagaimana dikutip dari Kantor Berita Antara (19/ 04).

Photo : KF-X Fighter (IHS)

Editor : (D.E.S)

Iklan

17 tanggapan untuk “Dubes Kim: Korea – Indonesia Terus Lanjutkan Proyek Pesawat Tempur KF-X/ IF-X”

  1. Niyat Ingsun amatek ajiku si Mbh Mien edan.
    Tak bakar menyan ning tgh Latar Mugo aku ra ketularan Edan.
    Amargo bathok sekarung wis tk Larung
    Upet-2 ku lewe benang ati iki nyuwon pencerahan tentang kapan setoran yg tertunda ini bakal di bayar Lunas.

    Suka

  2. Korea semangat luar biasa… Indonesia di ajak maju kog eman dengan duit.. Jer basuki mawa bea.
    Sri mulyani menteri keuangan terbaik versi ..anu… ayo keluarkan duitmu! Tunjukkan bahwa kau menteri keuangan terbaik.! Jangan bikin mbah dan seluruh rakyat Indonesia bersedih.

    Suka

  3. TOT Gripen maupun KFX/IFX sama sama tdk buat mesin pesawat. Klo persenjataan Gripen bisa disesuaikan dgn keinginan Indonesia, misalnya rudal petir, klo KFX /IFX blm tentu bisa. Sama sama mesin Amerika.
    Hasilnya blm tentu sama dgn korsel ato spt T 50 yg tdk ada radarnya.

    Suka

  4. Nah ini nih orang yg terkena propaganda DR. Setiap perusahaan mau melakukan Kostumisasi ataupun Plug and Play Jika Klien berani bayar sama Seperti Sukhoi yg sebelumnya Tk bisa terintegrasi dgn Sistem buatan barat tapi setelah India dan Malaysia berani bayar lebih buat Plug and Play maka sebisamungkin IRKUTS Mengintegrasikan dan Menyatupadukan sistem dari kedua blok Tsb dan Akhirnya menghasilkn MKI&MKM. Sekaligus untuk kelengkapan pesawat itu tergantung jg dgn permintaan dan duit yg disiapkan Klien karena FA-50 versi lengkap sudah pake APG-67 buatan GE.

    Suka

  5. Kl gue lbh tertarik beli blue print sekaligus prototipe Mig 33 izdeliye ( mig 29 single engine )…toh prototipe ga dilanjutin produksi masal di rusia, persis mig flatpack yg di beli china blue printnya utk j20.
    Apa lagi kl tu mig 33 pake mesin rd 93 ovt..bisa goyang dangdut bareng shukoi 35

    Suka

  6. Bung @Tombak. Sekarang Mig-33 sudah jadi JF-17. Dan selain itu Rusia masih mempunyai Proyek Light fighter single engine Su-S54 dan untungnya itu teknologi dari S-54 blum kena campur tangan Chino tk seperti Mig-33 selain itu S-54 pakai mesin AL-31 punya saturn dan bisa diaplikasikan TVC.

    Suka

  7. Nah tu..mantap mas jimy.
    Knp ga ditawarin join produksi ke indonesia bung jim..?? kan rusia bisa hemat anggaran kl join produksi

    Suka

  8. Lhoooooh….memang dagangane jimmy kebanyakan garam yo dek, kok minta “ditawarin”?

    Suka

  9. Klo memang bayar ya bayar saja, yg penting produk dlm negeri bisa dibawa spt rudal petir. Yg jadi pertanyaan knp kita beli T50 yg tdk ada radarnya. Ktanya IFX nanti tdk stealth.

    Suka

  10. Bung @Feeling. T-50 memang di beli Pesawatnya Dulu lalu baru beli Radarnya jadi wajar aja klau gk ada radar krena dulu belinya memang gk lengkap dgn radar sekaligus senjatanya. Dan untuk bung @Tombak. Itu proyek S-54 Jg dah di cancel kaya Mig-33 Jadi gk bakal diproduksi atau Ngajak negara lain untuk join dan sebagai Akal untuk mengakali itu Rusia dgn Mikoyan punya Proyek Light Fighter Single engine gen 5 LMFS.

    Suka

  11. Klo mmg bayar ya bayar, yg penting produk dlm negeri bisa diikutkan ke pespur spt rudal petir.. yg jadi pertanyaan knp kita beli T50 yg tdk ada radarnya. Katanya IFX tdk stealth

    Suka

  12. Ini si Feeling kayak tetek bengeknya si DR deh. kok kayak blom tau spec kita ma korea gimana…

    nih ya saya Jelaskan sedikit.
    Kita memang sejak awal berminat gabung sampai Block satu yg memang tidak Stealth dan tidak ada senjata Internal. Kenapa?
    1. Pespur Stealth biaya perawatan mahal, dll
    2. Weapon Internal di gunakan untuk tanki supaya jarak jangkau semakin jauh.
    sudah paham?

    dan juga sekarang itu Rudal Petir, Rudal petir kan sekarang di rubah menjadi Target Drone… masa di luncurin dari pesawat?

    Suka

  13. Sebetulnya ga ada lah pesawat stealth alias siluman..berkaca perang balkan,
    – f117 yg dijaman nya dibilang siluman jg nyusruk di cium rudal serbia…
    – f22 us sering di “tembak” jatuh thypoon, rafale di latihan red flag,..( liat kill marking f22 di pesawat thypoon ada byk )
    Kl gw pribadi sh ga terlalu tertarik bahas ifx, cz kenyataan kita industri di hulu sampe hilir ga ada. Jd otomatis meski ifx jd sekarang2pun..kemampuannya pt di ga berubah, cuma tukang rakit cz hrs impor dr a-z..
    Contoh utk membuat bodi pesawat yg ada sekarang aja msh impor kok lembaran baja kompositnya,..mank krakatau steel dh bisa ? 😀

    Suka

  14. Industri pendukung di hulu sampe hilir jelas pny peran vital, ..jd ga usah euporia jg berharap yg tinggi.
    Pt DI udh nyaman jadi karoseri airbus ( cuma ngerakit produk airbus )..mening dijual sekalian ke airbus, dari pada negara harus ngeluarin duit mulu..ngasi lwt PMN tanpa ada keuntungan balik ke kas negara. ( Mening bikin PDAM dr pada pertahankan pt DI..PDAM ngehasilin duit..😁😁 )

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s