Indonesia Butuh Pesawat Intai Baru

Dalam rangka mendukung Indonesia menjadi poros maritim dunia, maka diperlukan pembaharuan Alutsista pengintaian udara.

Kepala Dinas Operasi (Kadisops) Pangkalan Udara (Lanud) Sultan Hasanuddin, Kolonel Pnb Benny Arfan, mengungkapkan bahwa konsep pengintaian udara sangatlah mendukung kegiatan operasional di darat maupun laut atau maritim.

“Karakteristik udara adalah memayungi, kita tidak bisa beroperasi di media udara tanpa melihat yang terjadi di media darat maupun media maritim itulah konsep kita, makanya kita terapkan konsep air surveillance yang meng-cover semuanya,” ungkapnya dalam diskusi ‘Studi Ekskursi Media Tentang Keamanan Maritim’ di kawasan Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (14/5).

Benny mengatakan bahwa pesawat intai yang dimiliki TNI AU saat ini sebenarnya sudah sangat tua, apalagi jenis Boeing 737-200. Pesawat tersebut sudah berusia hampir 40 tahun sejak pertama kali terbang di langit Indonesia yakni sekitar tahun 1982.

“Perlu saya sampaikan memang kita mengoperasikan pesawat intai strategis yang sudah cukup tua, sangat tua bahkan,” ujarnya.

Namun meskipun demikian, Benny menegaskan, saat ini pesawat intai tersebut masih dalam keadaan yang prima. Bahkan, pesawat intai tersebut pernah mendapatkan sertifikat penghargaan dari Boeing dengan predikat ‘zero accident for 30 years operation without any single accident’.

“Namun yang jadi masalah adalah mission system, kemampuan radar, kemampuan kamera, infra red, communication link, itu yang harus kita upgrade,” katanya.

Benny menjelaskan, ada tiga platform dalam hal pengintaian udara. Pertama adalah menggunakan Satelit, Kedua Pesawat Drone/Unmaned Aerial Vehicle, dan Ketiga Pesawat Intai.

Menurut Benny, negara-negara maju seperti Amerika, China, Rusia dan Jerman menggunakan ketiganya. Sedangkan negara berkembang telah menggunakan pesawat intai yang lebih moderen dan canggih dibanding Indonesia.

“Yang menggunakan UAV dewasa ini adalah Singapura, Australia, India. Mereka juga menggunakan pesawat intai P8 Poseidon,” ungkapnya, sebagaimana dilansir dari laman Akurat (14/ 05).

Photo: Boeing 737-200 TNI AU di Lanud Sultan Hasanuddin (PhotoV2)

Editor: (D.E.S)

Iklan

22 tanggapan untuk “Indonesia Butuh Pesawat Intai Baru”

  1. Boeing P-8 Poseidon
    Boeing E-7A Wedgetail
    Kawasaki P1
    CN-235 MPA
    Gulfstream G550 AEW
    Raytheon Sentinel
    SAAB 340 AEW&C
    Monggo dipilih. ane pribadi sih lebih ke P-8 Poseidon

    Suka

  2. Yang dibutuhkan itu pesawat intai maritim, bukan hanya bomber.

    Pesawat intai maritim diutamakan yang bisa angkut sonobuoy, dan sekaligus bisa monitoring dari pesawat itu.

    Selaras dengan fungsinya yaitu pesawat intai maritim, yang dimonitor itu lautnya.

    Jadi selain monitoring permukaan laut, juga bisa monitoring bawah laut. Hal ini tak bisa dilakukan oleh pesawat yang suka monyong-monyongin bibir.

    Pesawat yang bibirnya monyong terus mirip dengan bibir si tukang karet itu terlalu over react angkutin bom laut segala tapi nggak bisa monitor bawah laut.

    Trus si tukang karet juga tawarin opsi lain pake pesawat kitiran.

    Kalau yang dipilih kitiran mesti lebih milih CN235 dong , produksi dalam negeri, daripada milih pesawat yang suka ileran itu.

    Namun yang dipilih bukanlah kitiran tetapi yang dipilih adalah pesawat intai maritim bermesin jet bisa angkut sonobuoy dan torpedo juga, bisa monitoring data sonobuoy dari situ juga dan yang terpenting adalah data link-nya. Dipilih bermesin jet sebab bisa sampai di trouble spot lebih cepat dan pesawat itu lumayan gede ukurannya supaya bisa muat dan ngejatuhin sonobuoy lebih banyak.

    Suka

  3. Lah Ada Yg Belum Tau Klau UAC Menawarkan Custom Sesuai Kamauan Buyer. 😆 Noh Kemaren Di India UAC Nawrin Il-114 Dgn Mesin Turbofan…

    Suka

  4. Selain itu pesawat ileran yang ditawarkan si tukang karet itu populasinya hanya sedikit, jauh lebih sedikit daripada Poseidon yang jumlahnya sudah 96 unit.

    Jadi si ileran sedikit suku cadangnya. Logistic nightmare.

    Trus Poseidon juga dibangun dari boeing 737 sebagai dasarnya. Populasi boeing 737 sudah lebih dari 6600 unit yang beroperasi. Boeing 737 sendiri sudah lebih dari 7000 yang dipesan.

    Jadi boeing sangat banyak suku cadangnya.

    BUMN kita yaitu GMF pun bisa merawatnya.

    Suka

  5. Cerita menarik dek dari natalius pigai

    Kumbakarna Telah Gugur, Rahwana Akan Tumbang

    Oleh Natalius Pigai (mantan Komisioner Komnas HAM) – Minggu, 06 Mei 2018

    Dalam cerita mitologi Jawa. ketika kita nonton atau membaca cerita pewayangan dalam kisah Ramayana, Adegan saat Hanoman dibakar hidup-hidup. Inilah cerita klimaks dalam pementasan wayang, baik wayang orang maupun wayang kulit. Kisah si kera sakti yang tak mempan dibakar, malah ganti membakar dan mengobrak-abrik kerajaan Negeri Alengka.

    Sang kera putih bukannya mati terbakar, namun merajalela menggunakan api yang berkobar pada tubuhnya untuk membakar kerajaan Alengka. Bahkan dia berhasil melarikan diri dan melaporkan peta kekuatan angkatan perang Alengka kepada Rama Wijaya.

    Perang besar di Alengka. Rama dengan bala tentara pasukan kera menyerbu Alengka. Sedangkan para raksasa bala tentara Alengka menahan serbuan para kera sakti dengan gagah berani pula.

    Di tengah medan perang yang dahsyat, kehebatan Kumbakarna yang turut berperang membela negara Alengka. Meskipun berwujud raksasa, kasar dan posturnya tinggi besar, namun sesungguhnya Kumbakarna adalah pribadi yang jujur, bijaksana dan memiliki jiwa nasionalisme yang mengagumkan.

    Dia tahu benar bahwa tindakan Rahwana sang kakak tidak benar. Bahkan dia berusaha selalu mengingatkan, meskipun tidak pernah digubris Rahwana.

    Karena negeri Alengka tanah tumpah darahnya diserang musuh, jiwa nasionalisme Kumbakarna terketuk. Dia berdiri di barisan terdepan untuk membela tanah tumpah darah sampai titik darah penghabisan. Kumbakarna mati di tangan Rama hanya karena membela Rahwana sang angkara murka.

    Rama harus bertarung sangat keras untuk mengalahkan Kumbakarna. Saat kedua tangannya telah terpotong, Kumbakarna masih mampu berperang dengan kakinya yang berukuran raksasa menginjak-injak baletentara kera. Kemudian Rama memotong kedua kali Kumbakarna, namun dia masih tetap berperang dengan menggelindingkan tubuhnya yang luar biasa besar. Namun akhirnya Kumbakarna gugur sebagai pahlawan bangsa setelah terkena panah sakti Rama.

    Pilkada 2017 lalu, mengingatkan saya memori sepenggal kisah mitologi Jawa yang saya baca dan menyaksikan dalam Sendratari Ramayanan di Candi Prambanan Medio 90-an. Bagaimana Ahok mendapat tekanan bertubi-tubi, dikrimininalisasi, berbagai kekerasan verbal menjadi korban diskriminasi rasial sampai akhirnya tumbang secara politik dalam Pilkada DKI Jakarta 19 April 2017.

    Ahok ibarat Kumbakarna yang gugur di tangan Rama sebagaimana alkisah di atas. Kumbakarna tidak mungkin gugur dan negeri Alengka mustahil jatuh ditangan Rama Wijaya seandainya saja Rahwana tidak menghukum Hanoman.

    Kesalahan terbesar Rahwana (Jokowi) memecat sembarang dari posisi menteri tanpa menghitung hutan Budi dan jasa atas perjuangan mereka. Pasti Hanoman (Anies Baswedan) sakit hati dan nyatakan perang atau lawan dan tahun lalu kita saksikan Anies Baswedan telah sukses obrak-abrik segala jabatan, uang dan otoritas dimiliki oleh Ahok maupun juga Jokowi.

    Sakitnya Hanoman (Anies) karena Rahwana (Jokowi), kakaknya Kumbakarna (Ahok), memberi hukuman yang kejam langsung pemecatan dari kursi menteri. Bagaimanapun Anies berguru pada bosnya Prabowo Subianto pemimpin perang ibarat Ramawijaya menyerbu negeri Alengka (Jakarta) berhasil dikuasai setelah menewaskan Ahok sang Kumbakarna.

    Tidak bisa disangkal bahwa kematian Kumbakarna karena ulah Rahwana. Hari ini juga kekalahan Pilkada Jakarta Karena ulah Jokowi yang menggunakan segala kekuasaan dan jabatan untuk menyerang semua orang yang bertentangan atau tidak sejalan.

    Orang-orang dekatnya yang pernah berdarah-darah dipecat, Istana diisi orang-orang oportunis yang tidak berkorban. Partai politik dihancurkan, aktivis tekan, kelompok Islam dianggap musuh, Pesoalan HAM diabaikan, tiap Kamis berjemur di depan istana diabaikan, rakyat kecil korban sia-sia karena cor kaki diabaikan, kemiskinan, pengangguran, kematian anak dan ibu yang meningkat bahkan kue kekuasaan hanya dinikmati kelompok kecil (oligarki), pembangunan infrastuktur yang masih dalam problematika, gagal membangun energi 35 ribu Megawatt, pembangunan 19 kawasan industri yang belum jadi satupun, hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah, peningkatan korupsi, kolusi dan nepotisme, penetrasi kapital dan mafia menguasai sumber daya alam, 6 ribu orang papua ditangkap, dianiaya, disiksa dan dibunuh selama 2,5 tahun kepemimpinan Jokowi, dibawah kepemimpinannya masalah Paniai, masalah Tolikara, Manokwari, Yahukimo, Timika dan Jayapura serta berbagai kasus lainnya.

    Sebagai persoalan di pemerintahan tersebut di atas mendasari rendah elektabilitas publik terhadap Ahok. Akhibatnya Ahok tumbang begitu saja.

    Kita tidak adil hanya menyalahkan seorang Ahok karena seperti Kumbakarna yang tidak pernah bersalah tetapi menjadi korban secara sadis oleh pasukan kera yg dipimpin oleh Rama. Yang harus bersalah dan merefleksikan atas kekalahan ini adalah Rahwana (Jokowi). Karena ulahnya. Karena itu, kematian kumbakarna (kekalahan Ahok) harus dihormati sebagai nasionalis tulen dan patriotik yang jujur tetapi kita juga akan menyaksikan dengan senjata bernama Jayawijaya Ramawijaya (Prabowo) akan menusuk dan menumbangkan Rahwana (Jokowi) 2019.

    Suka

  6. Tapi mbah, ingat juga kebaikannya. Tanpa đĩa papua akan tetap terisolir( jalan trans papua)bensin satu harga đi indonesia .pembangunan Infratruktur đi giatkan (meskipun modalnya hasil utang).sekolah gratis. ‘Setiap peminpin ada kelebihan dân kekurangannya’.

    Disukai oleh 1 orang

  7. Lah Memang Sekarang Masih Sedikit. Tapi Itu Pesawat Bakal Ganttin Il-38 Punya Russia Yg Populasinya Sudah Jelas Banyaknya Dan Lagian Sucadnya Kebanyakan Jg Di Aplikasikan Ke Proyek Pesawat Angkut Ringan Rusia (Il-112) Toh Lagian Mesin Turbofan Bisa Di Kostum Sesuai Kemauan Pembeli Atau Bisa Pake Mesinnya Barat Jika Memang Sesuai Dgn Kostumisasi Pembeli. 😆 Urusan Maintance?. Gampang Bisa Di Bicarakan Dlm Pembelian. 👌👌👌

    Suka

  8. Modifikasikan aja C295, beli , rakit dan modif. Engineer indonesia khususnya pt đi jago memodifikasi. Pesawatnya angkut ringan jadi pesawat intai. Pesawat cn 235 angkut turki aja Engeneer pt đi yang mengerjakan menjadi cn 235 mpa.

    Suka

  9. Bagaimana pun jauh lebih banyak Boeing 737 daripada pesawat ileran yang hanya beberapa puluh.

    Ileran versi 112 masih under development, belum bisa terbang.

    Suka

  10. Hahaha. Nah Mulai Ngawar Ngiwir Lagi. 😆 Lha Wong Namanya Pesawat Khusus Komersial Itu Ya Mesti Banyak Beda Kaya Pesawat Khusus Militer. Itu Ibaratnya Membandingkan Jumlah Semut Dan Gorila Di Dunia Ini. Emang Apa Pula Salahnya Nawarin Pesawat Yg Masih Dlm Pengembangan?. Padahal SAAB Pujaanmu Nawarin Gripen NG Yg Waktu Itu Masih Di Pengembangan Ke Proyek FXBR Punya Brazil Atau Malahan Yg Baru-baru Ini Nawarin MPA Yg Masih Sebatas Design Dan Mock Up Ke Korsel dan Masig Banyak Contoh Yg Sama Tapi Saya Malas Untuk Nyebutinnya. 😆

    Suka

  11. @mbah bowo

    Lha si pigai sendiri sumbangsihnya apa untuk tanah kelahirannya di bumi papua….selain “baper” karena tidak diberi jabatan oleh pak jokowi?

    Suka

  12. he he he byk yg lg ngidam Poseidon, mari berpikir waras, emang anda pernah jadi operator/teknisi nya ? yakin percaya dg kemampuan sebenarnya ? paling jg cuman korban iklan brosur nya.
    Berpikir positif bung, daya gunakan produk CN235/295 pernika pengembangan lokal, kemampuan nya tdk jauh beda ………. kalo kagak percaya, minta ijin ikut terbang ke PT. DI

    Suka

  13. Kalau menurut saya CN 235 atau C 295 versi pesawat intai dan peringatan dini bisa kita pilih. Apalagi versi yang bisa bawa roket/torpedo. Dengan ini kita juga bisa mendapatkan alih teknologi dan lapangan kerja bagi kita. Tentunya dengan syarat dibuat dan dirakit di Indonesialah. Dan akan lebih baik lagi dengan penggunaan komponen lokal yang memadai.

    Suka

  14. @mbah wowo
    perasaan klo dilihat charcternya jokowi vs prabowo yg mendekati seperti ramawijaya ya pak jokowi deh, orangya halus lemah lembut dan pake tata krama sopan santun dan tidak grasa grusu, kok ini jd dibalik sih….???

    Suka

  15. @mbah bowo, bilang ke natalius pigai, secara dia masuk gengnya prabowo, maka dia sudah pasti gak obyektif dalam menulis artikel tersebut. yang kedua, inget tahun 98 mbah?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s