Australia Harus Malu pada Orang Timor

An Australian commando, possibly Sergeant William (Bill) Ernest Tomasetti, in the mountains of Timor on December 12, 1942. (Wiki)
An Australian commando, possibly Sergeant William (Bill) Ernest Tomasetti, in the mountains of Timor on December 12, 1942. The picture shows terrain typical of the territory in which members of the 2/2nd Independent Company, part of “Sparrow Force”, carried out a guerrilla campaign against Japanese forces during 1942–43. (Photograph by Damien Parer.)

Bangsa Australia seharusnya malu pada orang Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang telah merelakan Bandara Penfui Kupang sebagai basis pertahanan menghadang pasukan Jepang dalam Perang Dunia II. Terkait dengan itu, Gary Quinlan yang baru saja menjadi Duta Besar Australia untuk Indonesia perlu lebih waspada dan cermat dalam menjalin diplomasi dengan Indonesia.

“Australia masih banyak berhutang budi pada rakyat NTT di Timor Barat, Rote Ndao dan Sabu yang telah merelakan nyawanya untuk bangsa Australia saat Perang Timor (Battle of Timor) pada 1941 dalam kancah PD II itu,” kata pemerhati masalah Laut Timor Ferdi Tanoni dalam keterangan tertulis yang di terima, Senin (28/ 05).

Dikatakan, catatan sejarah Australia tentang Battle of Timor 1941 disebutkan ketika pasukan sekutu pimpinan Australia melawan Jepang, tercatat sekitar 30.000-70.000 orang Timor mati sia-sia dalam perang tersebut. Bahkan, banyak isteri orang Timor yang diperkosa saat itu.

“Ini bukti kesetiaan orang Timor pada Australia, tetapi bangsa Australia tidak pernah merasa malu terhadap orang Timor yang tidak pernah melakukan ganti rugi atas kerugian yang dialami akibat wilayah perairan Laut Timor tercemar minyak mentah,” ujarnya.

Seperti diketahui, hampir 90 persen wilayah perairan Indonesia di Laut Timor tercemar akibat meledaknya anjungan minyak Montara di Blok Atlas Barat Laut Timor pada 21 Agustus 2009. Anjungan minyak Montara milik PTTEP asal Thailand serta penyemprotan bubuk kimia dipersant yang sangat berbahaya oleh Otoritas Keselamatan Maritim Australia (AMSA) ikut memperburuk dan merusak ekologi lingkungan serta kesehatan masyarakat pesisir di kepulauan NTT.

Terkait dengan itu, Ferdi menegaskan agar pemerintah Australia perlu lebih bertanggung jawab. Tidak saja soal pencemaran Laut Timor, tetapi juga sejarah panjang perjalanan hubungan rakyat Timor dan Australia. Hal itu perlu dicamkan dengan baik oleh Duta Besar Australia untuk Indonesia yang baru menjabat, Gary Quinlan, sehingga perlu lebih cermat dan waspada.

“Dubes yang baru tersebut harus lebih cermat untuk melihat berbagai proses yang sudah menambah penderitaan rakyat Timor dan masyarakat Indonesia secara umum,” tegasnya.

Kemarin, Gary melakukan kunjungan kehormatan kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla sebagai bagian dari tugasnya menggantikan Paul Grigson.

Ferdi menambahkan hubungan rakyat Timor sudah ada dalam sejarah tentang James Cook, yang juga Bapak Bangsa Australia James Cook, ketika pada tahun 1770 dengan kapal Endeavour yang sudah robek layarnya. Kapal yang sudah berbulan-bulan dalam pelayaran dari Papua Guinea itu berharap bisa mendapat pertolongan dari masyarakat Timor Barat. Persiapan makanan hampir habis dan anak buah kapal banyak yang sakit karena kurang gizi, lalu ditolong Raja Sabu Ama Doko Lomi Djara karena pertimbangan kemanusiaan.

Ketika James Cook hendak berangkat dari Pulau Sabu, Raja Sabu mengisi kapal Endeavour dengan 9 ekor kerbau, 6 ekor domba, 3 ekor babi, 30 pasang unggas, jeruk, kelapa, telur, bawang putih, serta ratusan galon gula cair.

“Banyak catatan sejarah lain, seperti Kapten William Bligh pada 1789, yang menyinggahi Kupang dan mendapatkan pertolongan,” ujarnya.

timor-gap-celah-timor_20150519_160033
Timor Gap (Celah Timor). (Istimewa)

Sayangnya, kata dia, perlakuan Pemerintah Australia terhadap orang Timor Barat, Rote Ndao dan Sabu sangat bertolak belakang dengan realitas kemanusiaan yang sedang dihadapi saat ini. Wilayah Laut Timor yang sangat kaya sumber daya alam itu, hampir 85 persen dicaplok sepihak oleh Australia untuk menguras kekayaannya.

Lebih dari itu, ribuan nelayan tradisional Indonesia diusir dan ditangkap lalu dipenjarakan dengan dalil yang sama sekali tidak berdasar.

Padahal, jauh sebelum Australia menjadi sebuah negara, para nelayan tradisional Indonesia secara turun temurun lebih kurang 500 tahun telah menjadikan kawasan Laut Timor itu sebagai rumah kedua untuk mencari nafkah hidup, sebagaimana dilansir dari Berita Satu (29/ 05).

Editor: (D.E.S)

Iklan

5 tanggapan untuk “Australia Harus Malu pada Orang Timor”

  1. Mangkny ingat sejarah,bangsa ini terlalu lugu klo berhadapan dgn bangsa lain,sedangkan dengan bangsa sendiri rela saling injak,saling hianat,korupsi makan duit rakyat…
    Unit pembinaan pancasila opo itu,pancasila sudah lama dikrarkan gak perlu lagi membentuk unit kerja pembinaan pancasial…blegedes cukuplah Mendik dgn PPKN tau kan itu PPKN : Pendidikan Pancasila & Kewarganegaraan

    Makan tuh kepentingan golongan

    Suka

  2. ala eeg blegedes kmu ngomong ujungnya politik!!!!!!!!!!!!! kalo mau ngomong politik di JAKARTA GREATER AJA tuh nama web gk sesuai isi… disana fans boy militir lebih banyak ngomongin politik pemerintah dan pemda dki yg gk jelas drpd militer.

    Suka

  3. Mbah brita diatas juga gak ada militernya hghghg,

    Blegedes kamu bahas didetik aja ya bakal dikeroyokin projo

    Suka

  4. NTT korban dari Proxy Elit Global (NATO) Tak aneh bila suatu saat nanti TIMLES akan jadi musuh besar OSHTALI juga tak FAIR jika bilang NKRI tak peduli dengan TIMLES soal ekonomi jika tak mau jadi korban banjir IMIGRAN

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s