PTDI: Salah Satu Poin Re-evaluasi Proyek KF-X/ IF-X adalah ‘IPR’

Pengembangan pesawat tempur KF-X/ IF-X sedang dalam proses re-evaluasi. Hal ini dikarenakan ada beberapa poin dari perjanjian yang harus dievaluasi ulang agar lebih menguntungkan bagi Indonesia.

Dilansir dari laman Kumparan (19/ 10), Jet tempur generasi 4,5 ini dikembangkan oleh Indonesia melalui PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan Korea Selatan melalui Korea Aerospace Industries (KAI) Ltd.

Beberapa poin tersebut di antaranya terkait Intellectual Property Rights (IPR).

Dalam kerja sama dengan Korsel, besaran kontribusi Indonesia sebesar 20 persen di dalamnya, selebihnya adalah porsi Korea.

“Kami mau lakukan pendalaman di bidang IPR karena itu nanti kan porsinya 80 dan 20 persen. Tapi tetap walau kita hanya 20 persen kita ingin maksimal. Kalau misalnya 50:50 itu kan seimbang,” kata Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI Gita Amperiawan, Jumat (19/10).

Selain itu juga pihaknya tengah menyorot beberapa isu teknologi yang sensitif seperti lisensi ekspor dan juga marketing. Sebab, kerja sama pembuatan jet tempur KF-X/ IF-X antara pemerintah Indonesia dan Korsel masih harus menunggu persetujuan lisensi dari Amerika Serikat (AS).

“Pokoknya ada beberapa poin yang menjadi landasan kita dalam bekerja sama dan harus jadi fokus supaya lebih baik dan tidak hanya menguntungkan pihak luar,” tambahnya.

Proses re-evaluasi direncanakan akan selesai di akhir tahun bahkan lebih cepat.

Nantinya proses produksi prototype yang ada sebanyak 6 unit. Pembuatan prototype akan dimulai hingga tahun 2023 setelah proses re-evaluasi berakhir.

“Kita akan launch prototype di tahun 2023 dan seluruhnya total ada 6 prototype. Salah satunya akan dikirim ke Indonesia dan dikembangkan,” tambah Gita.

Pesawat tempur KF-X/ IF-X ini adalah pesawat tempur semi-siluman generasi 4,5 yang dikembangkan Indonesia dan Korsel. Kerja sama pengembangan pesawat ini sebatas pada pengembangan pesawat tempur hingga mencapai prototipe.

“Kontrak kita sampai tahun 2026. Total seluruh biaya yang digunakan untuk peroduksi pesawat tempur ini sekitar USD 6 juta, sedangkan Indonesia sendiri akan membayar sebesar USD 1,2 juta,” tutup Gita.

Photo: KF-X/ IF-X (Janes)

Editor: (D.E.S)

Iklan

3 tanggapan untuk “PTDI: Salah Satu Poin Re-evaluasi Proyek KF-X/ IF-X adalah ‘IPR’”

  1. ya sudahlah… kl memang ga pny duit atau ga mau bayar 20% batalin aja.

    sekarang..kondisi kita balik, kita yg 80% korsel 20%.. namun korsel minta job jg profit 50%. bisa kita terima ???
    cm 2 milyar US$..minta aneh”…
    pdhl kita beli 8 apache ke US lbh dr 1,3 milyar US$ tnpa ada timbal balik.
    itu baru apache blom chinook, herkules c130 dll

    Suka

  2. Ini namanya diplomasi,negosiasi.sdh tgs pemerintahan dgn dana yg ada dpt hasil yg maksimal,cerewet dikit gak masalah asal buat kebaikan

    Suka

  3. Pengertiannya tidak begitu dek ryo…

    Tolong dipisahkan dulu ttg IPR dan komposisi/besaran modal…itu dua hal yg berbeda.

    Selama ini pengaturan “bobot/nilai IPR” disamakan dg bobot/besarnya dana yg kita suntikkan…berapapun andil keahlian para insinyur kita dalam pengembangan IFX.

    Jadi walopun bobot IPRdari para ahli kita misalnya mencapai 50% dalam proyek IFX ini, hak kita dipukul rata hanya 20%, disamakan dg kontribusi setoran modal kita.

    Kan enggak adil itu namanya….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s