Proposal Pangkalan Jet Tempur F-15 Singapura di Ōhakea Ditolak

F-16 fighter jet pilots from Singapore spent four weeks training at Ōhakea air force base last year to see how a proposal to base themselves there might work. (Stuff)
F-16 fighter jet pilots from Singapore spent four weeks training at Ōhakea air force base last year to see how a proposal to base themselves there might work. (Stuff)

Proposal untuk mendatangkan jet tempur Singapura di Ōhakea Selandia Baru telah ditolak karena masalah infrastruktur di pangkalan udara tersebut.

Dilansir dari laman Stuff (21/ 12), Menteri Pertahanan Selandia Baru, Ron Mark, mengatakan kedua belah pihak menyimpulkan proposal tersebut tidak dapat dilanjutkan, karena tanpa pengeluaran yang signifikan, Ōhakea tidak dapat menjadi home base skuadron F-15.

Mark mengatakan konsep tersebut telah mendapat dukungan kuat dari pemerintah daerah dan pusat dan dia kecewa dengan hasilnya.

“Saya memperhatikan saran resmi tentang berbagai aspek dari proposal sepanjang tahun.”

Mark mengatakan menempatkan jet tempur di sana dalam jangka panjang akan membuat tekanan signifikan pada kapasitas lapangan terbang dan wilayah udara di atasnya.

“Singapura juga menyimpulkan bahwa parameter biaya adalah faktor utama.”

Pada Februari tahun lalu, Militer Selandia Baru mengkonfirmasi para pejabat dalam pembicaraan untuk mendirikan pangkalan pelatihan pilot di Ōhakea.

Jet tempur F-16 datang ke Ōhakea pada bulan September 2017 dan para pejabat optimis pada tahap itu tentang potensi untuk kemajuan lebih lanjut.

Tetapi menyediakan basis untuk F-15 dalam jangka panjang terbukti bermasalah.

Editor: (D.E.S)

Iklan

23 tanggapan untuk “Proposal Pangkalan Jet Tempur F-15 Singapura di Ōhakea Ditolak”

  1. @dul

    Kayaknya sukhoi belum pernah sekalipun mengintersep pesawat tempur asing….kalo F-5, Hawk-200 dan F-16 siy sudah pernah.

    Yg diintersep, pespurnya lebih canggih malahan, hhh

    Suka

  2. Dul..

    Sukhoi sudah ada sejak zaman presiden megawati..dan zaman sby pun membeli tambahan sukhoi tetapi pelanggaran udara tetap banyak..
    Menjadi berkurang jelas berkat management dan ketegasan pihak TNI-AU yg bekerjasama dengan AIRNAV..

    Suka

  3. @sukhoiman itu jaman bahulak,mau intersep malah goyang dangdut

    Dan nyatanya sukhoi tetaplah heavy fighter bukan medium fighter,apalagi keroco fighter,
    Lebih ngebut lebih jauh jangkauan

    Sampai ifx jadi sukhoi tetap dilangit xixixi

    Suka

  4. Ada yg merasa lebih pintar soal fighter, padahal pengalaman soal aviasi tempur yg paling wah adalah : naik li*n air yg kena delay 6 jam hihihi

    Suka

  5. @Dul

    Gak begitu ngaruh bro meskipun sejak dulu udah beli Sukhoi, kenyataannya masih banyak jg pelanggaran udara. FIR sama satuan radar negara ini dulu ditentukan baru dah lo bisa ngomong Su-27/30/34/35 sekalian tambahin dah sesuai yg lo mah S-300/400/Pantsir/Buk M2-M3 dsb apa kek wkwkw🤣🤣🤣

    Suka

  6. Mau heavy fighterlah atau jumbo fighterlah yg terpenting tidak mudah mangkrak, perawatan mudah dan tak perlu dibawa ke negara lain…😊😊😊

    Suka

  7. Yang paling penting beli barang ga di atur harus gini ga boleh di pake gitu dengan alasan ham tanpa ngaca ke yg embargonya apalagi brgnya downgrade…
    Dan kenapa ya harus sukhoi yg intersep kalo ada armada workhouse yang selalu siap patroli dan terdekat ke target point…
    Point pentingnya yang penting ketegasan pemerintah siapapun dan jajaranya thd pelanggar bukan masalah pesawatnya ga pernah intersep… kcuali klo dia sales psti nyalahinya pesawat lain bukan peraturan ama ketegasanya…

    Suka

  8. Nah, itu dia kuncinya.

    Pespur terdekat dengan targetlah yang mesti harus intersep.

    Nggak perlu bangga-banggain Sukhoi yang intersep dll.

    Soal ada Sukhoi yang intersep karena secara kebetulan dia sedang ada di dekat target pelanggaran wilayah udara.

    Tapi antara seringnya siapa yang intersep ya lebih sering F16 dan hawk yang sekarang intersep daripada Sukhoi.

    Mengapa ? Karena F16 dan hawk ditaruh dekat kepri, pelanggaran biasanya terjadi di wilayah ini (ALKI 1).

    Kalo Sukhoi biasanya intersep pelanggaran wilayah dekat selat Makassar (ALKI 2) dan dekat perairan Maluku (ALKI 3).

    Kalo pun ada Sukhoi yang intersep di ALKI 1, kebetulan aja dia ad sedang dalam rangka latihan di situ lalu ada pelanggaran wilayah udara ya Sukhoi yang digunakan biar para pilotnya ada kerjaan nggak hanya sibuk tanam sayur hidroponik saja.

    Nanti kalo sudah ada skuadron workhorse single engine di Biak, Kupang dan Manado maka lebih sering skuadron dari wilayah ini yang akan melakukan intersep di sekitar ALKI 2 dan ALKI 3.

    Suka

  9. Salah bukan AWE&C doang tapi payung Udara (sejenis SAM) yang pling penting dan ti tempatkan di setiap Red Zone, Strategic Point atau area NFZ, dll. pasang aja S series plus Patriot, dll.
    tentunya radar ma AWC&C harus support supaya bisa deteksi lebih jauh sebelum masuk ZEE…

    Suka

  10. @Tachibana
    Betul, payung udara yang kompatibel dgn aset” au juga dibutuhkan supaya tidak terjadi friendly fire dan kesulitan bertukar informasi
    Untuk payung udara kemungkinan besar akan terpilih antara Aster 30 atau Nasams II
    *peace*

    Suka

  11. @semen padang,

    Nasams II itu memang sudah dipilih sebagai pertahanan udara jarak sedang untuk lanud tipe A.

    Yang belum ada adalah pertahanan udara jarak jauh, yang akan diambil dari Eropa atau Amrik, dan bukan dari Rusia.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s