Realisasi Pembayaran Pesawat Tempur Sukhoi Su-35 Terhambat

Realisasi pembelian pesawat tempur Sukhoi Su-35 tampaknya belum bisa dilakukan pada 2019. Pasalnya, hingga hari ini belum ada kejelasan pembayaran oleh pihak Indonesia.

Dilansir dari laman Kompas (24/ 1), Saat rapat dengar pendapat dengan Komisi I DPR, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, Rabu (23/1/2019) di Kompleks Senayan, Jakarta mengatakan, ada tiga kementerian yang terlibat dalam pengadaan Sukhoi Su-35, “Selain Kementerian Pertahanan, juga Kementerian Perdagangan dan Kementerian Keuangan,” kata Ryamizard.

Menurut Ryamizard, pihaknya sudah menandatangani kontrak, tetapi selanjutnya harus dilanjutkan dengan pembayaran. Pembayaran terbagi atas 50 persen dalam bentuk imbal dagang dengan produk-produk komoditas dan 50 persen dibayar tunai. Proses diawali dengan penentuan besaran imbal dagang dengan komoditas-komoditas tertentu yang bisa disediakan Indonesia dan dibutuhkan Rusia. “Setelah selesai dengan penentuan komoditas Kementerian Perdagangan, baru proses selanjutnya ke Menteri Keuangan. Kontraknya sudah saya tanda tangani,” ujarnya.

Terkait sinyalemen adanya masalah dari Pemerintah Amerika Serikat yang oleh sejumlah pihak dituding menekan Indonesia untuk membatalkan pembelian, Ryamizard menepis hal itu. Dalam beberapa kali pertemuan, tambah Ryamizard, Menteri Pertahanan AS Jim Mattis menjamin AS tak akan menghambat pembelian Sukhoi oleh Indonesia.

Berdasarkan catatan Kompas, kontrak pembelian Sukhoi ditandatangani Kementerian Pertahanan, pertengahan Februari 2018. Kontrak diharapkan efektif, yaitu dibayar enam bulan atau Agustus 2018. Pembelian Sukhoi dilakukan untuk mengganti pesawat tempur F5. Sejauh ini, Pemerintah RI membeli 11 unit Sukhoi Su-35 seharga 1,14 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 15 triliun. Dalam kesepakatan imbal dagang, Indonesia akan membeyar dengan komoditas, seperti kelapa sawit dan kopi.

Dalam paparannya, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto tak menyebutkan Sukhoi Su-35 sebagai salah satu persenjataan yang akan datang pada 2019.

Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan Agus Setiadji mengatakan, dalam kontrak dengan Rusia, pesawat tempur Su-35 akan datang setahun setelah kontrak efektif. Namun, karena hingga Januari ini belum ada pembayaran, tahun ini belum ada kepastian Sukhoi tiba di Indonesia.

Di sela-sela rapat dengar pendapat, Ryamizard juga menjelaskan kemajuan proyek pembuatan pesawat tempur generasi 4.5 dengan Korea Aerospace Industries (KAI), yaitu KFX. Proyek itu sebelumnya terkatung-katung, tetapi kini sudah dilanjutkan kembali.

Photo: Su-35 in 2009 (Wiki)

Editor: (D.E.S)

Iklan

30 tanggapan untuk “Realisasi Pembayaran Pesawat Tempur Sukhoi Su-35 Terhambat”

  1. Su-35 telat, KFX-IFX juga udah telat bayar skrg malah kabarnya mau negosiasi ulang kontribusi jd dibawah 20%. Komplit sudah dilema buat AU kita

    Dah banyakin aja super tucano

    Suka

        1. kata netizen, jalan tol nya digadaikan saja dulu buat bayar dp sukhoi πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

          Suka

  2. “COPAS dari blog sebelah πŸ‘‡…..kalo rusia keberatan dg syarat yg kita ajukan ya tinggal mereka tolak saja kontraknya πŸ™…πŸ™…πŸ™…, KELAR !!!”

    Perencanaan Air Baku, Air Bersih dan Air Limbah
    Januari 27, 2019 at 9:43 amLog masuk untuk Membalas

    Maklumlah… Masak teknologi canggih dituker Pete, Trasi, Sambel Pecel.. Rusia ya mikir.. ini pemimpin Indonesia sebetulnya bisa menghargai karya Rusia apa enggak sih?

    Suka

  3. Mending dibuat beli pesawat angkut logistik saja
    Kan kata pak menhan 15 tahun kedepan kita nggak perang,
    Mending jangan pernah beli pesawat tempur lah, beli pesawat angkut saja yang banyak kan lawan kita bukan negara lain, lawan kita kan bencana
    Dan kalau terpaksa lawan negara lain kan kata pak menhan kita perang total artinya mengorbankan jiwa raga dan nyawa yang banyak untuk perang melawan tank dan pesawat siluman

    Suka

    1. Lha menurutmu dalam 15 tahun kedepan pemerintah hanya berpangku tangan….itu f-16 yg sudah ada saja masih terus dilengkapi persenjataan dan sensornya 🀷

      Serta yg lebih penting itu meningkatkan skill para pengawak persenjataannya….duit gak sedikit itu πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ

      Suka

        1. T-50 jugak mau lengkapi radar,,,,

          ngomong2 kok kgk ada yg bahas pespur 50, ada yg varian T-50, FA-50, dan TA-50.
          ada yg pakek radar amrik, ada yg pake radar is real. wow πŸ˜™

          tpi klo beli yg is real, kayaknya kgk bisa deh, nanti takut ada sentimen negatif dari masyarakat…. lagi pula kebijakan luar negeri kita pan pro palestina.

          mungkin klo 2019 anuuu πŸ˜…πŸ˜“πŸ˜…πŸ˜“ radar 50 bisa dipasang……. anuu πŸ˜“πŸ˜…πŸ˜“πŸ˜…

          Suka

      1. Ya f 16 saja terus sampe khatam tuh umur
        Tak ada upgrade yang signifikan apalagi nambah unit
        Pesawat tempur kita hanya 41 unit
        Kebanyakan sudah udzur
        Yang terhebat hanya si 9 unit sukro 30 mk 2, 2 unit mkk yang teknologinya sudah udzur dan 3 unit 27 skm itupun sensor sapsan jammer nya tidak ada
        Yang lain hanya f 16 blok 32+ yang ada sedikit fitur blok 52
        Sisanya pesawat serang darat embrarer
        Ingat ya t 50 kita masih belum di upgrade, meskipun digadang gadang di pasang radar kemungkinan bukan setara fa 50 ataupun ta 50
        Mending perbanyak kapal perang saja

        Suka

      2. Oh iya f 16 yang sudah ada itu hanya hibah dari amerika berupa airframe dan f 16 utuh di preteli buat suku cadang
        Meskipun sensor di perbaharui tapi masih blok 32+ , masih sedikit pula pesawat nya
        Emang ya seperti kejadian dahulu kala saat si sukro di lock sama f 18 ternyata ketahuan kalau tidak ada persenjataannya dan akhirnya memasang peralatan elektronik meskipun hanya radar warning receiver saja tapi ta apalah, kan di gembor gemborkan bisa di gunakan untuk peperangan elektronik
        Mending dibatalin su 35 nya dan di belikan f 16 viper, upgrade f 16 jadi setara f 16 viper atau f 15x super eagle ataupun menambah 5 unit su 30
        sme dan mengupgrade su 30 menjadi setara sme sme, upgrade 2 unit su 27sk dan 3 unit skm menjadi skm agar bisa menyerupai su 35 dengan radar ibris E dan wingtip khibyil electronic countermeasure dan juga negosiasi kepada amrik supaya Menjadi mitra strategis seperti india agar kita dapat jaminan tot proyek ifx 90 % dan jaminan tot senjata dari as yang banyak

        Suka

    1. Ya memang php sih
      Beritanya saja yang di gede gedekan
      Yang tercanggih lah
      Bisa mengalahkan f 35 lah
      Menjadi negara terkuat lah
      Ini lah itu lah
      Nyatanya entah kemana
      Kasihan tni di php in terus dari zaman dahulu

      Suka

  4. Kalok batal,,,duitnya dipake buat beli Herkules tambahan aja, pan C-130 bisa dikonversi jadi AEW atau AEW&C…….wow 😱😎😱😎 glek……
    radarnya ada yg pake aesa dan coverage nya 360 derajat….dengan pemasangan array radar di samping……..
    https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn%3AANd9GcRPTAPDjmy-N_jJR1upwZoqJ3n2qPPsaNS5iMc2VwcW6FOmqKiL

    atau mungkin model radar dengan piringan diatasnya (radome) baik yg bentuk bulat maupun kotak….

    Suka

  5. F-16 jugak kemampuan radarnya masih terbatas, walo sudah pasang perangkat elektronik dan meningkatkan kemampuan komputasi, sehingga bisa menggotong AMRAAM, tpi radarnya masih jauh dibanding punyak tetangga……πŸ˜£πŸ˜–πŸ˜£πŸ˜–

    klo sukri radarnya oke oce😱, coverage luas dan lebar😱, tpi klo sudah panas, beberapa modul harus dimatikan nunggu dingin dulu.πŸ˜‚πŸ˜‚
    dan masalah hanggar queen jugak perlu diperhatikan……πŸ˜‚πŸ˜‚

    Suka

    1. Ukuran bagus jeleknya radar itu dari resolusinya dek…kemampuan prosesing radarnya, bukan soal jangkauan deteksi πŸ€”

      Suka

  6. Php ???
    TNI masih baik2 saja kok…
    Anda tahu permasalahannya atau tidak sama sekali ??
    Pengadaan SU-35 ini terkait dengan beberapa pemangku kebijakan yg punya peran masing2 tetapi harus sinergi…

    Suka

    1. Setidaknya untuk jangka waktu pendek saja kita baik baik saja, ancaman yang nyata masih bencana, kkb maupun teroris
      Tapi jangka panjang seandainya terjadi perang bagaimana? Sekarang saja situasi laut china makin panas
      Disamping itu negara tetangga seperti singapura dan australia saja sudah mulai menggunakan teknologi siluman
      Iya memang semua memiliki pemangku kebijakan masing masing dan harus sinergi tapi fakta dam nyatanya dilapangan berbeda kan
      Kontrak saja belum di tanda tangani padahal kesepakatan sudah di sepakati tahun lalu, sampai sampai dubesnya saja bilang hanya kurang tanda tangan saja sudah clear dan tinggal tunggu
      Tapi kata pak menhan nunggu kemenkeu yang membayarnya
      Apakah ini sinergi, kan seharusnya uang ada di tangan tinggal kasih, kan sudah mengadakan tender juga

      Suka

      1. Keputusan sudah ditentukan…
        Kontrak sudah ditandatangani…
        Proses imbal dagang tinggal rusia yg menentukan pilihannya…
        Ini investasi yg tidak kecil bagi indonesia, apakah nantinya menguntungkan indonesia atau sebaliknya, studi kelayakan harus dijalankan, kemenkeu tidak bodoh…
        KKIP sudah memberitahukan tentang syarat dari UU pengadaan alutsista dan belum ada jawaban dari pihak rusia,, apa lagi ???

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s