TNI-AU Selesaikan Studi Terkait Persyaratan Pesawat Tanker

TNI-AU telah menyelesaikan studi terkait persyaratan pesawat pengisian bahan bakar di udara (tanker) dan telah mengusulkan akuisisi dua airframe baru untuk layanan ini.

Dilansir dari laman Janes (25/ 1), Studi diselesaikan melalui konsultasi dengan perusahaan afiliasi negara GMF AeroAsia, yang dilakukan untuk menyelesaikan parameter program dengan maksud meluncurkan program akuisisi formal dan permintaan pendanaan dari Kementerian Pertahanan Indonesia.

Kesimpulan dari penelitian ini mencakup persyaratan untuk badan pesawat guna mendukung metode probe-and-drogue dan flying boom aerial refuelling.

TNI-AU telah menjabarkan persyaratan anggaran sekitar USD500 juta untuk program ini, dan telah mengusulkan agar dana tersebut ditarik dari pinjaman kredit ekspor pertahanan asing, menurut informasi yang diberikan kepada Jane pada 24 Januari oleh sumber TNI-AU.

Pada Januari 2018 bahwa TNI-AU telah memulai studi pendahuluan untuk membandingkan A330 multi-tanker-transport (MRTT) dari Airbus dan Pegasus KC-46A dari Boeing.

Ilyushin Il-78 juga dimasukkan dalam penelitian ini.

Jika proposal TNI-AU menerima persetujuan Kementerian Pertahanan, proses akuisisi formal diperkirakan akan dimulai pada tahun 2020.

Layanan ini juga mengharapkan A330 dan KC-46A menjadi front-runners setelah permintaan untuk tender dikeluarkan.

Photo: KC-46 tanker (Defense News)

Editor: (D.E.S)

Iklan

16 tanggapan untuk “TNI-AU Selesaikan Studi Terkait Persyaratan Pesawat Tanker”

  1. Gue pegang :
    KC-46 untuk tanker
    Wedgetail untuk AEWC&S
    Poseidon untuk MPA dan ASW

    Masukkan ke skuadron udara 5 supaya mudah pemeliharaannya.

    Suka

  2. Dua2nya sesuai spesifikasi teknis dari TNI-AU, dua2nya juga memiliki keunggulan masing2, jadi kalau yg ini terserahlah mana yg akan dipilih…πŸ™†πŸ™†πŸ™†

    Suka

  3. KC-46 lebih masuk akal terkait harganya yg lebih murah dan mampu mendarat di landasan pacu yg lebih pendek, dengan harga kurang lebih 147,4 juta dolar, maka dari 500 juta dolar yg dianggarkan pihak TNI-AU ada harapan dapat 3 unit pesawat…

    Sedangkan A 330 memiliki keunggulan daya angkut yg lebih besar, ketinggian dan jangkauan yg lebih jauh, kekurangannya adalah tidak mampu mendarat di landasan pacu yg lebih pendek dan tentu saja dengan harga per unit pesawat yg lebih mahal, versi standar komersil dari A 330 saja ditafsir 238 juta dolar per unit, artinya anggaran 500 juta dolar hanya dapat 2 unit pesawat…
    Biasanya indonesia akan lebih memilh harga yg lebih kompetitif dan unggul dalam jumlah maupun mampu mendarat di banyak landasan yg sudah tersedia…

    Suka

  4. SU 35 aja belum kelar kelar, duit gk ada udh ngomong Tanker, chinook dll alasan komoditi jd pengganjal sukhoi, beresin dulu satu satu tapi pasti, belum lagi kelanjutan KFX. KCR tak ber rudal, yg ada malah di lolosi rudal nya di ganti sama RHIB. program MEF nya tidak segahar yg dulu

    Suka

    1. SGI ini ketinggalan berita.

      Untuk pengganti F5 itu beda anggaran dengan Chinook, tanker dll.

      Kenapa Sukhoi lelet, karena Rusia sebagai supplier enggan menaati UU pengadaan alutsista kita.

      Kenapa IFX juga kita nenawar pakai imbal beli bayarnya ? Sebab sebagian anggarannya mau digeser dipakai untuk beli yang lain juga.

      Kenapa KCR dicopot rudalnya ? Ini masih masa damai, lihat tuh dudukan rudalnya udah ada, kalo mau pasang rudal hanya butuh kurang dari 5 jam udah terpasang itu rudalnya.

      Rudal KCR tidak diganti RHIB sebab tempat RHIB memang sudah ada ya di sebelah dudukan rudal itu.

      Malah KCR kita yang sudah ada diperkuat dengan ditambahkannya CIWS 6 laras 30 mm di bagian belakang meniru konsep korvet Parchim yang ada meriam depan dan belakang.

      Suka

      1. Wkwkwk…santai aja bro, hasil hitung hitungan sampeyan di JKGR dari jaman baheula jg gk ada yg jadi nyata (tp emang ok banget lah klo ilmu hitung nya maha guru) hk ada yg salah dgn hitungan anda, hanya realistis aja lah dgn kondisi saat ini, utk SU 35 imbal dagang 50% tunai 50% tinggal bayar yg 50% nya mau kredit atau skema lain, rusia pasti ambil komoditi yg sudah di tawarkan tentunya yg sesuai kebutuhan mereka dan sukhoi bisa lanjut (mau jenis pesawat nya apapun klo sdh clear pembayaran nya pasti lancar pengadaan), gk termasuk kerupuk yg pernah di sebut mendag kita wkwkwk…di group sebelah jg sdh pernah release foto terakhir KCR yg sdh terpasang RHIB (dengan caption :terlihat peluncur rudal sdh tidak terlihat…) & di tambah crane tp gk liat dimana dudukan peluncur rudal nya.
        Utk ciws kayanya blm deh bro cmiiw
        Budget ifx mestinya jgn di geser demi proses kemandirian alutsista (kapal selam sdh ok lah top tinggal di kembangkan lagi dengan AIP dan peluncur rudal nya), tank pindad jg semoga tidak senasib dgn panser canon

        Suka

  5. SGI pasti orangnya lucu dan menggemaskan…πŸ˜ƒπŸ˜†
    “Satu satu kamu sayang ibu”…..
    Ini urusan negara, bukan urusan rumah tangga..πŸ™†πŸ™†πŸ™†

    Suka

    1. ha..ha..ha…siap salah bro Ahver, namanya jg diskusi. negara pun sebetul nya rumah tangga dalam skala yg lebih besar dan kompleks. mayoritas alutsista yg ada sekarang pengadaan jaman nya pak pur, meski bnyk yg second jg tp akselerasi nya cepat dlm pengadaan

      Suka

        1. ha..ha..ha..ya deh, semoga lelet nya rezim skr dalam pengadaan & modernisasi alutsista, utama nya udara & laut tidak membuat gap alutsista, saat ini kita hanya bergantung pada f16 abcd yg menua (meski sdh di upgrade) & su 27 30, T50 ( yg katanya kapan taun mau di upgrade) ompong tak punya radar & rudal masih kalah jauh dgn FA50, armada hawk pun sudah menua harus cepat cari ganti nya, begitu juga KRI ex parchim sdh menua, tidak usah muluk muluk destroyer, korvet cukup asal lethal rudal nya ya sukur2 bikin PKR lagi tp jangan nanggung senjatanya. daripada pak menhan yg sekarang saya malah pengen bro tukangitungphd yg jadi menhan, karena hitungan nya yg cermat sampai perkilo meter persegi luas indonesia, radius tempur jenis pesawat butuh brp skadron tempur, fregat/korvet yg tepat, rudal yg tepat, tp kaya nya bro jg perlu di support sama tukangapprovephd biar lancar pengadaan MEF klo perlu HEF he..he..he..

          Suka

  6. Pengadaan alutsista itu memang tidak sebentar, membutuhkan proses yg rumit, apa yg dirancang hari ini tidak akan mungkin keluar besok, yg akan menikmati kajian dan keputusan hari ini adalah generasi selanjutnya, begitu seterusnya…

    Suka

    1. setuju bro Ahver teliti itu perlu, tp kalau lama nya karena terhambat oleh rumit nya birokrasi atau bahkan kepentingan lain jg tdk bagus, negri ini kaya SDA nya mestinya anggaran pertahanan bisa mencapai 2% PDB tapi yg di sampaikan bahwa akan di naikan anggaran pertahanan pun gk kesampaian. spt yg di sampaikan bpk panglima bahwa landscap dunia cepat berubah, ya harus cepat jg kita mengantisipasi nya.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s