Pengamat Militer dan Pertahanan: Pembiayaan “Multiyears” Lebih Efisien

Susaningtyas Kertopati (Kompas)
Susaningtyas Kertopati (Kompas)

Koran Jakarta mewawancarai pengamat militer dan pertahanan Susaningtyas Kertopati, terkait anggaran pertahanan Indonesia yang sedang  ramai diperbincangkan.

Berikut petikannya;

Bagaimana pendapat Anda ter­kait anggaran pertahanan Indo­nesia untuk penguatan alutsista?

Pemenuhan Minimum Essential Force (MEF) TNI perlu penyelarasan periode dan struktur pembiayaan yang lebih realistik dengan skema multiyears. Dengan skema baru, maka proses procurement (pembelian), termasuk di dalam­nya proses acquisition (perolehan) dapat disesuaikan dengan skema yang lazim digunakan oleh negara produsen alat utama sistem senjata (alutsista) dimaksud.

Jadi, ke depan harus ada skema baru terkait penganggaran ini?

Skema baru diyakini dapat lebih efisien dan akuntabel agar diper­oleh manfaat yang optimal baik untuk TNI maupun untuk sistem keuangan negara. Pemerintahan yang baru dapat mengajukan ke DPR untuk pembahasan yang lebih komprehensif.

Selain anggaran, menurut Anda apa lagi yang penting untuk memperkuat pertahanan?

Jenis-jenis perang yang mungkin tidak dis­adari masyarakat adalah perang budaya (culture war). Dengan menye­barnya berbagai teknologi canggih ke seluruh dunia, maka timbul budaya-budaya baru akibat kema­juan teknologi. Nilai-nilai kemanu­siaan dan interaksi sosial semakin tergerus. Contohnya, saat ini budaya menggunakan smartphone mengalahkan kebutuhan manusia bersosialisasi. Dalam suatu meja rapat, ketika menunggu rapat dimulai, maka semua peserta rapat sibuk menggunakan handphone ketimbang berdiskusi dengan rekan kerja yang duduk bersama di meja tersebut. Kita semua menjadi terasing di dunia kita sendiri ketika pengaruh teknologi merubah mentali­tas manusia.

Pesatnya teknologi itu harus dianti­sipasi untuk pertahanan ke depan?

Tantangan pertahanan saat ini adalah penggunaan teknologi unmanned system (drone) di udara, darat, di laut, dan di bawah laut. Doktrin dan strategi pertahanan akan berubah total sejalan dengan meningkatnya penggunaan unmanned system di satuan-satuan tempur. Sisi positifnya adalah efisiensi biaya operasional dan minimalnya jatuh korban prajurit.

Tapi, sisi negatifnya juga cukup banyak, seperti hilangnya pertim­bangan rasional pada pengambilan keputusan taktis di lapangan, tidak terkendalinya colateral damage, dan munculnya berbagai unintended consequences (konsekuensi yang tak diinginkan). Dengan berbagai teknologi canggih serta perubahan doktrin dan strategi dihadapkan dengan menipisnya sumber daya alam di dunia, maka justru perang frontal semakin membesar probabilitasnya.

Maksudnya, ke depan juga harus ada kerja sama pertahanan dan keamanan?

Kerja sama pertahanan dan kerja sama keamanan akan semakin mengemuka untuk membatasi penggunaan lethal unmanned sys­tem (LUM)/ drone yang mematikan oleh negara pengguna. TNI dapat berinisiatif mengundang para ahli hukum perang dari berbagai dunia untuk merumuskan hukum inter­nasional yang baru khusus menga­tur penggunaan LUM.

Apalagi yang diperlukan untuk memperkuat pertahanan?

Masyarakat sipil harus disiapkan mengantisipasi gejolak gangguan keamanan melalui penjabaran Sistem Pertahanan Semesta sesuai dengan nilai-nilai kejuangan 45. Masyarakat saat ini harus disadar­kan siapa saja musuh bersama yang muncul. Terorisme dan bahaya laten komunis merupakan musuh bersama karena bertentangan dengan ideologi Pancasila.

Sumber: Koran Jakarta (2 April 2019)

Editor: (D.E.S)

Iklan

One thought on “Pengamat Militer dan Pertahanan: Pembiayaan “Multiyears” Lebih Efisien”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s