Pos TNI AL Pangandaran Tak Miliki Kapal Patroli

KAL Bawean 1
Foto Ilustrasi : KAL Bawean I-02 (BV)

Pos TNI AL Pangandaran menjaga 200 kilometer luas pantai mulai dari Majingklak, Kabupaten Pangandaran, pantai sepanjang Kabupaten Tasikmalaya, hingga Cikelet, Kabupaten Garut. Namun, untuk menjaga keamanan di laut, Pos TNI AL di titik ini tidak memiliki kapal patroli.

“Sebetulnya (kapal) ada, tapi sudah rusak, terkena tsunami (2006). Kami sudah mencoba memperbaiki, tapi karena faktor usia (tidak bisa beroperasi),” kata Wakil Komandan Pos TNI AL Pangandaran, Peltu Laut Dayat Sudrajat, saat ditemui di Pos TNI AL, Jumat (21/06/2019), sebagaimana dilansir dari laman Kompas (21/ 06/ 2019).

Selama belum mempunyai kapal, anggota Pos TNI AL melaksanakan patroli terpadu bersama kapal patroli dari Kementerian Kelautan dan Perikanan dan kapal patroli milik Polairud Polres Ciamis.

Selain itu, lanjut Dayat, anggota memperkuat jaringan intelijen, termasuk berkoordinasi dengan nelayan di wilayah Kabupaten Pangandaran, Tasikmalaya, dan Garut. Nelayan, kata dia, merupakan mitra TNI AL.

“Begitu ada informasi misalnya ada laka laut, atau imigran gelap, nelayan memberikan kabar. Infonya lebih cepat karena mereka tiap hari ke laut,” ujar Dayat.

Pos TNI AL Pangandaran, kata dia, membawahi empat pos pengamatan yakni di Majingklak, Pantai Bojong Salawe Pangandaran, Pantai Cipatujah Tasikmalaya, dan Cikelet Garut. Ada satu anggota TNI AL yang berjaga di tiap pos pengamatan.

Dia menyebutkan, ada berbagai jenis kapal TNI AL, yakni kapal perang, kapal Angkatan Laut, dan kapal patroli keamanan laut. Idealnya, menurut Dayat, Pos TNI AL Pangandaran memiliki kapal Angkatan Laut.

“(Lanal) Cilacap, dan Cirebon punya (kapal AL). (Lanal) Bandung belum ada, baik di Palabuhan Ratu maupun Pangandaran,” ujar dia.

Kapal AL, lanjut dia, panjangnya di atas 28 meter. Sedangkan kapal patroli keamanan laut (Patkamla) 12 meter.

Ditanya tingkat kerawanan kejahatan maupun konflik di laut, Dayat mengatakan, di wilayahnya relatif aman.

Pada tahun 2012-an banyak imigran gelap yang terdampar di Pangandaran. Selain itu, wilayah Pangandaran dekat dengan Cilacap.

Kadang-kadang nelayan Pangandaran menangkan ikan di perairan Cilacap dan sebaliknya. “Nelayan Pangandaran fishing ground-nya antara dua wilayah. Potensi konflik ada, paling tidak kami bisa menengahi,” kata dia.

Kerawanan lain yakni penangkapan benih lobster yang dilarang pemerintah. “Kalau (penyelundupan) narkoba dan senjata belum ditemukan. Potensinya ada, tapi faktanya belum ditemukan,” kata Dayat

Editor: (D.E.S)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s