Indonesia Akan Kurangi ‘Share’ Proyek Pesawat Tempur KFX dan IF-X

Menkopolhukam Wiranto menyatakan, pemerintah akan menegosiasi ulang proyek pesawat tempur KF-X dan IF-X serta berencana mengurangi total share dari proyek yang sudah bekerja sama sejak 2016 silam.

“Inti dari program ini adalah bagaimana kita di satu sisi ingin mengurangi sharing KFX. Mengurangi share ke Indonesia dalam program pembantuan pesawat tempur KFX,” kata Wiranto kepada wartawan usai rapat terbatas terkait perkembangan proyek pesawat tempur KF-X dan IF-X di kantor Kemenkopolhukam, Jakarta, sebagaimana dilansir dari laman Tirto pada hari Kamis (18/07/2019).

Kabar terakhir proyek ini berlangsung pada akhir 2018. Kala itu, sekitar Desember 2018, pemerintah membayar 132 miliar won untuk pembayaran iuran cost share tahun 2016. Tetapi, pemerintah belum membayar untuk iuran proyek 2017 dan 2018.

Pada tahun 2016, pemerintah melakukan penandatanganan cost share agreement dengan Korea Selatan (Korsel) untuk proyek KFX/IFX. Namun, setelah penandatanganan pada Januari 2016, Indonesia dalam waktu kurang dari dua tahun menghentikan pembayaran iuran KF-X karena menganggap manfaat program tersebut tak sebanding dengan ongkos yang dikeluarkan.

Dalam kesepakatan awal, Indonesia akan menanggung 20 persen biaya pengembangan yang diperkirakan mencapai 7,5 miliar dolar AS sampai 2025. Tapi puluhan insinyur Indonesia justru dipulangkan Awal 2018.

Pemerintah kemudian negosiasi ulang selama setahun untuk proyek tersebut. Wiranto mengaku, pemerintah berencana mengurangi share karena arah kebijakan pemerintahan Jokowi yang berfokus kepada infrastruktur dan pembangunan sumber daya manusia. Ia ingin agar renegosiasi dari proyek KFX IF-X tetap menjaga hubungan baik Indonesia dengan Korsel.

Meski berencana mengurangi sharing, Wiranto menegaskan pengurangan sharing tidak berarti Indonesia tidak mendapat apa pun.

Pemerintah, ujarnya, tetap menginginkan teknologi dari proyek pesawat. Sebab, perolehan teknologi sejalan dengan visi presiden dalam pembangunan SDM Indonesia.

Wiranto selaku koordinator sudah melakukan negosiasi dengan pihak pemerintah Korsel dan sudah mendapat hal positif, meski perlu ada pembahasan lanjutan untuk masalah program tersebut.

“Ini sudah berjalan hampir setahun, dan kita janjikan setahun ini selesai. Maka pagi hari ini kita mencoba untuk memberikan kembali apa yang sudah kita hasilkan, baik dalam rangka pembicaraan dengan pihak Korea Selatan, maupun urusan internal,” kata Wiranto.

“Saya sampaikan bahwa perkembangan sudah ada, pemahaman atau kesepahaman sudah terjadi. Korsel memahami kepentingan Indonesia, menghormati usaha itu, tapi dia juga punya batas tertentu dan juga proses di dalam negeri mereka,” tukas Wiranto.

Photo: KF-X (picdeer)

Editor: (D.E.S)

Iklan

7 tanggapan untuk “Indonesia Akan Kurangi ‘Share’ Proyek Pesawat Tempur KFX dan IF-X”

    1. Oh ya gak mungkin. Saya gak suka liat kita renegosiasi share kita tapi ” bakalan ngambek dan dikeluarkan ” itu terlalu melodramatis lebay. Masalahnya kita pasar alutsista Korea Selatan, ekspor pertama Changbogo ke siapa ? Ke kita sampe 6 lagi, pengguna desain LPD dari Korea & kita masih bayar royalty siapa ? Ya kita, ekspor pertama KT-1 Wongbee & T-50 siapa ? Ya kita lagi, Satu-satunya ekspor pertama Chiron siapa ? Kita lagi, pengguna Tarantula FSV siapa ? Kita juga. Kita juga gak suka liat renegosiasi tele tele tapi ya gak usah lebay. Masalahnya kita ni ” Pasar ” mereka

      Suka

      1. Yah tanpa kita, Produk mereka memang tidak akan terkenal di Ekspor Dunia Miilter, bisa dibilang kitalah pelanggan tetap sekaligus pembuka jalur Prdouk mereka ke dunia luar. Listnya produk yang dibelinya sesuai kata Growler…
        Dengan pembelian banyak tsb dan menjadi pelanggan tetap, tentu wajar jika kita bisa meNego share tsb dan menggantinya dengan membeli alutsista yang di butuhkan secepatnya seperti Kasel tapi dari mereka lagi…
        Dan wajar jika suatu Negara meNego share dalam RnD, liatlah Eropa yang dalam RnD selalu berubah share, toh pasti Pemerintah Pusat siapapun pemimpinnya pasti bakal memikirkan ini matang2…

        Suka

  1. Dimana-mana yg namanya RD itu butuh biaya besar, kalau dilihat dari dulu sampai kini Pemerintah itu cenderung pelit utk mengeluarkan dana utk Litbang, makanya kita punya banyak profesor doktor Litbang tapi hasilnya belum maksimal karena minimnya dana riset ini. Lihat saja roket kita gak jadi-jadi sementara Hamas dan Houthi roketnya sdh war-wer ngantemi tetangganya. Jer Basuki Mawa Beya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s