Prajurit Armed Gelar Latihan Menembak Menggunakan Howitzer Caliber 105 mm

Prajurit Armed menggelar latihan menembak menggunakan meriam howitzer caliber 105 mm di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Amborawang
Prajurit Armed menggelar latihan menembak menggunakan meriam howitzer caliber 105 mm di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Amborawang. (Prokal)

Prajurit Armed menggelar latihan menembak menggunakan meriam howitzer caliber 105 mm di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Amborawang, Kukar, Kamis (22/ 08) siang hingga sore kemarin.

Dilansir dari laman Prokal (22/ 08/ 2019), Sebanyak 8 unit meriam  pabrikan Amerika tahun 1986 didatangkan dari Armed 18 Komposit Kodam Mulawarman yang bermarkas di Tenggarong, Kukar bersama 100 pasukan TNI AD.

Simulasi latihan menembakkan 45 amunisi yang terdiri 3 amunisi berhulu ledak asap dan 42 amnuisi berhulu ledak brisan.

Danyon Armed 18 Komposit Kodam VI Mulawarman Mayor Arm Ari Priyudono SSos MT (Han)  mengatakan, senjata berat caliber 105 memiliki jarak tembak maksimal 12 Km.

“Jarak tembak maksimal 12 Km, dalam latihan ini kami menembak lengkung jarak 8 Km,” ujarnya sambil  memberikan penjelasan kepada Kapendam VI Mulawarman Kolonel Inf Dino Martino yang hadir menyaksikan latihan.

Dia mengatakan, dalam latihan taktis penembakan, pertama kali adalah menembakkan amunisi asap yang tujuannya menentukan titik tembakan yang sebenarnya menggunakan amunisi brisan.

“Amunisi asap untuk menentukan titik tembakan berikutnya menggunakan amunisi perusak,” ungkap Ari Prayudono.

Daya ledak amunisi brisan cukup dahsyat. Setelah ditembakkan, akan meledak saat menyentuh titik sasaran dengan daya rusak radius sekelilingnya 100 meter  dan menciderai atau membunuh radius sekeliling 300 meter.

Selain amunisi asap dan brisan, ada amunisi hulu ledak anti tank yang mampu menembus badan tank dari baja, kemudian meledak di dalam dan menghancurkan tank, namun jenis tersebut tidak dilakukan penembakan.

“Tujuan latihan ini untuk melatih kesiapan pasukan. Meriam digunakan untuk melumpuhkan objek, sehingga satuan dapat mengusai sasaran yang dituju. Bukan hanya sekadar simulasi, dengan latihan secara nyata ini maka prajurit dapat siap melaksanakannya ketika dibutuhkan. Karena Armed 18 Komposit merupakan satuan pendukung tembak yang memiliki peran penting. Latihan digelar rutin paling tidak dua kali dalam satu tahun, antara bulan Agustus dan September. Tembakan meriam dalam perang sesungguhnya memberikan bantuan tembakan kepada pasukan manuver infanteri untuk mencapai sasaran. Dalam latihan ini, kami koordinasi Air Nav Bandara Sepinggan untuk menutup ruang udara dari perlintasan pesawat udara. Selama latihan tembak, pesawat dilarang melintas di area ini,” imbuhnya.

Ari Prayudono menambahkan, latihan akan dilanjutkan lagi di Berau dengan meriam yang kalibernya lebih besar lagi, yakni meriam caliber 155 mm buatan Korsel dengan jarak tembak mencapai 33 Km.

“Untuk meriam ini, tidak bisa menembak di sini. Karena kalau ditembakkan, jatuhnya ke laut,” ujar Kapendam menambahkan.

Amunisi meriam terdiri dari beberapa bagian seperti, bagian selongsong, bagian propelan sebagai pendorong, serta bagian hulu ledak.

Kapasitas dari filling atau pengisian TNT ataupun campuran TNT ke dalam hulu ledak meriam mencapai 1.200 kg per shift, dan di dalam hulu ledak granat meriam 105 berisi 2 kg TNT.

“Meriamnya buatan Amerika, amunisinya juga buatan Amerika. Itu sudah satu paket,” jelas Kapendam Dino Martino.

Editor: (D.E.S)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s