Pemimpin Russia dan Ukraina Akan Lakukan Pertemuan

Presiden Rusia Vladimir Putin (kedua dari kanan) dan Menteri Pertahanan Rusia Sergey Ivanov (kiri) menyaksikan peluncuran rudal selama latihan militer di Laut Barents. (AFP)
Presiden Rusia Vladimir Putin (kedua dari kanan) dan Menteri Pertahanan Rusia Sergey Ivanov (kiri) menyaksikan peluncuran rudal selama latihan militer di Laut Barents. (AFP)

Pemimpin dari Russia dan Ukraina akan melakukan pertemuan pada Senin (9/12) untuk merundingkan situasi konflik di Ukraina timur. Pertemuan bilateral yang akan mempertemukan Presiden Russia, Vladimir Putin, dan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, untuk pertama kalinya itu diharapkan bisa jadi langkah awal bagi mengakhiri satu-satunya peperangan yang masih terjadi di daratan Eropa.

“Pertemuan tatap muka tingkat tinggi Russia-Ukraina itu akan digelar di Paris, Prancis,” demikian dilaporkan kantor berita AFP pada Jumat (6/12).

Walau kecil kemungkinan akan terjadi terobosan, namun kemenangan Zelensky dalam pemilu presiden tahun ini serta semakin meredanya ketegangan di wilayah konflik Ukraina timur, telah membawa harapan akan terjadinya perdamaian setelah terjadi kondlik selama 5 tahun.

Dilansir dari laman Koran Jakarta (8/ 12/ 2019), Presiden Prancis, Emmanuel Macron, dan Kanselir Jerman, Angela Merkel, akan memediasi pertemuan tingkat tinggi Russia-Ukraina itu dengan harapan perundingan tersebut bisa memulihkan kembali hubungan baik antara Eropa dengan Moskwa yang memburuk setelah terjadinya konflik di Ukraina timur.

“Saya tak mengharapkan apa-apa (dari pertemuan di Paris), namun pertemuan ini amat penting untuk dilaksanakan,” kata Presiden Zelensky dalam konferensi pers di Kiev pada pekan ini. “Jujur saya tak tahu apakah kami akan sukses atau tidak, namun kemenangan pertama yaitu keberhasilan kami untuk berunding,” imbuh Presiden Ukraina itu.

Kapal perang bersenjata artileri miliki Ukraina dan kapal tunda terlihat berlabuh di pelabuhan Kerch, Crimea, Rusia pada 26 November 2018. Reuters
Kapal perang bersenjata artileri miliki Ukraina dan kapal tunda terlihat berlabuh di pelabuhan Kerch, Crimea, Rusia pada 26 November 2018. (Reuters)

Sejak konflik di Ukraina timur pecah pada 2014 telah merenggut korban jiwa sebanyak lebih dari 13 ribu orang serta telah memaksa lebih dari sejuta warga di wilayah itu meninggalkan kediaman mereka. Konflik di Ukraina timur pun telah menghancurkan perekonomian di Ukraina.

Konflik di Ukraina timur juga berdampak dengan hubungan antara Russia dengan negara-negara Barat. Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa segera menerapkan sanksi terhadap Moskwa setelah Russia menganeksasi Crimea dan menyokong kelompok separatis di Ukraina timur.

Pertemuan di Paris pada awal pekan nanti merupakan perundingan pertama antara Russia-Ukraina yang bertujuan untuk melaksanakan perjanjian yang disepakati di Minsk oleh Russia, Ukraina, Prancis dan Jerman, pada Februari 2015 lalu.

Isi dari perjanjian Minsk yaitu mengupayakan gencatan senjata, penarikan penggunaan senjata berat, pemulihan kendali Kiev atas perbatasannya, diloloskannya otonomi yang lebih luas di wilayah yang dikuasi kelompok separatis, serta diperbolehkannya pelaksanaan pemilu lokal.

Sayangnya perjanjian belum pernah diimplementasikan dan perundingan antara Russia dan Ukraina mengalami kemandekan saat Ukraina masih dipimpin oleh Presiden Petro Poroshenko.

Sejak Zelensky berkuasa pada Mei lalu, telah terjadi sejumlah peredaan ketegangan di Ukraina timur yang ditandai dengan pertukaran tahanan perang, penarikan pasukan di garis depan, serta dikembalikannya kapal-kapal perang Ukraina yang ditahan Russia pada tahun lalu.

Dalam pertemuan di Paris nanti, Presiden Zelensky berharap bisa menggokan 3 tuntutan yaitu dilaksanakannya kembali pertukaran tahanan perang sebelum peringatan pergantian tahun, penerapan gencatan senjata, dan dibubarkannya kelompok bersenjata ilegal di wilayah Ukraina.

Sementara pihak Moskwa diperkirakan akan mengajukan tuntutan jaminan atas status wilayah Donetsk dan Lugansk yang dikuasai kelompok separatis dan dilaksanakannya pemilu. Tak hanya itu, Russia pun menginginkan adanya kemungkinan diperlonggarnya sanksi dari Prancis dan Jerman.

Peringatan Poroshenko

Terkait akan dilaksanakannya pertemuan tingkat tinggi di Paris, mantan Presiden Poroshenko pada Jumat memperingatkan Zelensky agar tak mempercayai Putin.

“Jangan pernah percayai Putin soal apapun. Ia memanipulasi apapun mulai dari isi, fakta, tabel, peta, bahkan emosi. Ia benci Ukraina dan warganya. Saya dengan tulus pun meminta agar Zelensky tak melakukan pertemuan empat mata dengan Putin. Jika tak terelakkan, lawan manipulasi bahkan sanjungan bergaya KGB-nya,” pungkas Poroshenko.

Editor: (D.E.S)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s