Nusa Tenggara Timur Jadi Perhatian Pengembangan Alutsista Angkatan Darat

Komandan Korem (Danrem) 161 Wirasakti Kupang Brigjen TNI Syaiful Rahman (Tribunnews)
Komandan Korem (Danrem) 161 Wirasakti Kupang Brigjen TNI Syaiful Rahman (Tribunnews)

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kini tengah menjadi perhatian Markas Besar TNI AD. Sebagai provinsi perbatasan yang berbatasan langsung dengan negara Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) dan Australia, NTT mendapat prioritas perhatian Mabes TNI AD untuk pengembangan kekuatan pertahanan.

Dilansir dari laman Tribunnews (27/ 12/ 2019), selain pengembangan satuan, Mabes TNI juga melakukan pengembangan alutsista pertahanan Angkatan Darat di wilayah NTT.

“Framenya, bahwa di NTT sedang dilaksanakan banyak sekali pengembangan satuan, jadi NTT saat ini menjadi pusat perhatian pimpinan dalam rangka pengembangan kekuatan,” ujar Komandan Korem (Danrem) 161/Wirasakti Kupang Brigjen TNI Syaiful Rahman.

Ia mengatakan pengembangan satuan telah mulai dilaksanakan di wilayah Kabupaten Kupang NTT. Pengembangan tersebut antara lain, dibentuknya Batalyon Artileri Medan (Yon Armed) dan Batalyon Artileri Pertahanan Udara (Yon Arhanud) di wilayah Camplong Kabupaten Kupang. Saat ini juga telah dibangun satu Batalyon Kavaleri di wilayah Kabupaten Belu.

Selain itu, diproyeksikan akan dibangun Batalyon Perbekalan dan dan Angkutan (Yonbekang) pada 2021 dan Batalyon Kesehatan Angkatan Darat (Yonkes) pada 2022 di Camplong Kabupaten Kupang.

Dalam waktu lima tahun ini, juga direncanakan akan dibangun satu batalyon di Kabupaten Ende Pulau Flores dan satu batalyon di wilayah Pulau Sumba.

“Masyarakat harus siap terhadap perubahan, baik perubahan ekonomi, perubahan edukasi dan perubahan pertahanan,” ujarnya.

Dengan adanya unsur ketahanan semakin banyak, jelasnya, maka secara otomatis akan ada jaminan peningkatan keamanan.

“Ketika aparat makin banyak emang makin rawan? Kan tidak, pastinya makin aman, karena apa? Semakin banyak aparat yang melakukannya pengamanan,” jelas Danrem.

Di Yon Armed akan ditempatkan meriam sersan kaliber 155 sementara di Batalyon Kavaleri Atambua ditempatkan 12 unit tank Panser Anoa2 6×6. Setiap Batalyon, jelasnya, akan diperkuat pasukan sejumlah 500 hingg 1000 orang. “Semuanya terpusat di Kupang, itu kayak military base,” katanya.

Untuk pembangunan Korem, lanjutnya, saat ini sedang dilaksanakan kajian. Proses pembentukan telah dilaksanakan bertahap dengan pembangunan dan peresmian Kodim Sumba Barat Daya (SBD).

“Ilustrasinya sama saat pengembangan atau pemekaran wilayah. Pengembangan satuan TNI selaras dengan kebutuhan pertahanan,” katanya.

Ia menjelaskan, pengembangan satuan selalu dilakukan berdasarkan kajian. Hal tersebut bukanlah sebuah perjalanan yang mutlak tapi terprediksi pasti akan terjadi. “Kita lihat bagaimana ancamannya, bagaimana kebutuhan mendesak dari situasi dan kondisi wilayah kita,” pungkasnya.

Editor: (D.E.S)

5 tanggapan untuk “Nusa Tenggara Timur Jadi Perhatian Pengembangan Alutsista Angkatan Darat”

  1. Mungkin yang dimaksud kekuatan anoa setingkat kompi kavaleri yang terdiri dari panser anoa. Nah, saya mau tambahkan di Kaimana, di Merauke, di Timika, di Enarotali, di Nabire, Dogiyai, Kabupaten 2 di pegunungan Papua Tengah ditempatkan tank harimau dan panser anoa serta meriam cal 155 mm serta RPG, kemudian penambahan kekuatan. Kalau di Papua, tdk bisa kekuatan dibilang 1 batalion ternyata hanya 250 org, kalau 1 batalion ya seharusnya personil siap tempur 1000 orang tdk termasuk perwira lapangan, dan perwira administrasi juga tenaga sipil administrasi serta personil kesehatan. Di beberapa kabupaten pegunungan Papua tengah, paling tdk ditempatkan 20 batalion tambahan 8 batalion infanteri, 4 batalion kavaleri dan 2 batalion kesehatan, 2 batalion pusbenkan, 4 batalion artileri.

    Suka

  2. Mungkin yang dimaksud kekuatan anoa setingkat kompi kavaleri yang terdiri dari panser anoa. Nah, saya mau tambahkan di Kaimana, di Merauke, di Timika, di Enarotali, di Nabire, Dogiyai, Kabupaten 2 di pegunungan Papua Tengah ditempatkan tank harimau dan panser anoa serta meriam cal 155 mm serta RPG, kemudian penambahan kekuatan. Kalau di Papua, tdk bisa kekuatan dibilang 1 batalion ternyata hanya 250 org, kalau 1 batalion ya seharusnya personil siap tempur 1000 orang tdk termasuk perwira lapangan, dan perwira administrasi juga tenaga sipil administrasi serta personil kesehatan. Di beberapa kabupaten pegunungan Papua tengah, paling tdk ditempatkan 20 batalion tambahan 8 batalion infanteri, 4 batalion kavaleri dan 2 batalion kesehatan, 2 batalion pusbenkan, 4 batalion artileri.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s